GELISAHKU
Suatu pagi , aku duduk didepan teras rumahku , menunggu seseorang datang menjemputku . Tapi setelah aku menunggu begitu lama , mengapa dia tak kunjung datang ? kulirik sebuah jam bergambar bintang ditangan kiriku “hampir telat…” gumamku . Kuberjalan didepan pagar , kutengok jalan , tak kulihat sosok yang kutunggu . “selalu gak tepatin janji” gumamku lagi sambil memegang pagar jeruji didepan rumahku , aku berdecak kesal . Ini sudah ke-5 kalinya dia tak menjemputku . Dia adalah pacarku .
Saat keluar main , dia menghampiri ku dengan muka tak berdosa . Seperti biasa . “sayang , maaf tadi dijalan macet , maaf sayang yah . Sebagai tanda maafku , ini lollipop dan coklat buat pacarku tersayang.” Ucapnya sambil menyodorkan kedua cemilan favoritku . “KEVIN! Bisa tidak kau diam sekali! “ jawabku dengan nada keras , dia kaget dengan reaksiku . Yah , namanya dia KEVIN PUTRA ANGGARA anak seorang pengusaha perkebunan teh yang terkenal di jawa barat dan ayahnya ANGGARA BASKORO . Sedangkan aku BINTANG KASIH AMARA anak dari pengusaha garmen terbesar se-pulau jawa .
Dia selalu mengikutiku , lama-lama akupun gerah , aku berhenti dan berbalik . Tanpa sengaja aku mengusirnya . “Bisa tidak kau tak mengikutiku , setidaknya menjauh dari hidupku , kau tak pernah menepati janjimu . Kau tau aku tak suka seorang pembohong ,” dia hanya menatapku dengan tatapan kaget , lalu tatapan itu berganti menjadi tatapan kesedihan . “Baiklah , kalau itu mau mu. Tapi asal kamu tau , aku selalu berusaha menepati janjiku , tapi kondisiku yang tak mengijinkanku” jawabnya , lalu beranjak pergi dan meninggalkan aku sendiri dibawah lapangan basket . Sekarang akulah yang kaget akan reaksinya , sebegitu jahatkah aku sampai mengusir pacarku , gumamku dalam hati . Kupandangi punggungnya yang beranjang menjauh dariku . Aku hanya bias menyesali perkataanku .
Esok harinya , aku sama sekali tak melihatnya disekolah . Ingin rasanya pergi kekelasnya , dan meminta maaf atas perkataanku . Tapi entah mengapa gengsiku terlalu besar untuk menegurnya terlebih dahulu . Semua sahabat-sahabatku bertanya mengapa aku tak bernah terlihat lagi dengannya , aku hanya menjawab “ahh kalian ajjah yang gak pernah liat.” Selalu seperti itu , sahabat-sahabatku hanya menjawab “ya sudah.” Muka mereka menunjukkan mereka tak puas dengan jawabanku .
Seminggu sudah aku tak pernah bertemu dengannya , dia tak pernah memberi kabar , tak pernah telfon atau sms sekedar mengatakan ‘hai’ . Setiap hari selalu ku tunggu . Aku mulai gelisah dengan dia . “Kevin , bagaimana kabarmu sekarang ? apa kamu sudah makan apa belum ?” ujarku sambil mondar-mandir di balkon rumahku . “Sayang kenapa kamu gelisah?” ujar wanita cantik disampingku yang ternyata adalah bundaku . “Bunda , Kevin gak ada kabar seminggu ini , dia juga gak pernah menghubungiku lagi” akhirnya tangisku pun pecah , air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya jatuh begitu saja . “mengapa kau tak pergi kekelas atau kerumahnya?” Tanya bundaku . “aku malu , bun.” Aku menjawab dengan mata merah . Bundaku lalu memeluk dan membelai halus rambutku . “kenapa harus malu , kalian pacaran sudah 2 tahun ? apa yang harus dipermalukan lagi ?” ujar bundaku . Kulepas pelukan bundaku dan kulihat dia tersenyum padaku . Cantik . Aku hanya mengangguk , kupeluk bundaku lagi dan tanpa sadar aku tertidur dipelukan bundaku .
Pagi ini aku terbangun agak siangan , maklumlah hari minggu . Entah mengapa aku sudah berada dikamarku . Siapa yang mengangkatku sampai kamar ? Bundaku kah ? tak mungkin beliau cukup kuat untuk mengangkatku . Apakah ayah ? Segera kubangun dari tempat tidurku , dan berharap bahwa orang yang ku cari itu ada . ADA . “Ayaaaaahhhh ….” Ku berlari dan memeluk ayahku , sudah sejak sebulan yang lalu beliau pergi keluar kota dengan alasan bisnis . “aduh sayang , gimana kabar bintang kecilnya ayah ini?” ujar ayah ku sambil membelai halus rambutku . “baik.” Jawabku . “bohong tadi malam bintang kecil ayah menangis semalaman dan tertidur dipelukan bunda .” ujar bundaku sambil menyiapkan sarapan pagi untukku dan ayah . “ah bunda jangan cerita-cerita sama ayah donk . Aku udah gak kecil lagi , aku sudah gede nie . Lihat sekarang aku sudah setinggi ini juga .” ujarku sambil memakan sandwitch buatan bundaku . “Nangis kenapa ? Eits , sampai kapanpun kamu tetap bintang kecil ayah dan bunda “ ujar ayahku sambil tersenyum . “udah ah gak usah dibahas , Bintang laper nih” jawabku sambil masih mengunyah . “ hemb baiklah , telan dulu makannya , nanti makannya ujan kemana-mana” canda ayahku . Inilah yang buatku selalu kangen dengan ayahku , candaanya selalu dapat membuatku tersenyum . “ingat ! walaupun hari libur , tetep harus mandi . “ ujar bunda dari dalam dapur . “Iya bunda .” jawabku sambil berlari ke kamarku .
Senin pagi , kulewat didepan kelasnya . Tapi aku tak melihat sosoknya sama sekali . Tiba-tiba teman kelas Kevin lewat . “Eh jess , Kevin mana ? kok aku gak liat dia yah ?” Tanya ku pada Jessica . “Loh ? bukanya sudah seminggu ini dia sakit yah ? kamu yang pacarnya kok gak tau sih ? aneh banget .” jawab Jessica sambil meninggalkanku . Aku terdiam , aku terteguh dengan apa yang Jesicca katakan , apakan itu benar ? pacar macam apa aku ? pacarku sakit aku tak tau sama sekali ? , gumamku dalam hati . Tanpa sadar aku sudah berada ditaman sekolahku , air mataku jatuh , aku menangis sejadi-jadinya . Aku menangis tanpa suara , kutahan suaraku agar tak ada yang mendengar dan melihat aku menangis . Akhirnya aku berlari dan mengambil tas ku didalam kelas , aku tak peduli guru memanggil-manggil aku terus . Sekarang aku harus sampai dirumahnya Kevin . HARUS . Ku roggoh tas ku untuk mencari kunci mobilku , setelah ku dapat , kuberlari disepanjang koridor , tak peduli semua pandangan melihat kearahku .
Tak peduli semacet apapun jalanan , kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi . Ku tak hiraukan setiap orang memaki-makiku karena aku ngebut . Sesampainya dirumah Kevin , aku terheran-heran melihat rumahnya dia yang sepi , seperti tak berpenghuni . Kupencet bel disamping pintu gerbangnya , keluarkan sosok wanita yang amat kukenal selama ini , sosok yang telah lama bekerja dirumah pak Baskoro , mbo’ nah . Begitulah kami semua memanggilnya . “Oh , neng Bintang toh ? cari den’ Kevin yah ?” Tanyanya berturut-turut . Aku hanya tersenyum dan menggangguk . “Loh , den’ Kevin kan lagi dirumah sakit neng , masa neng tidak tau ? “ Tanya mbo’ nah lagi . Rumah sakit ? Siapa yang sakit ? Kevin atau om atau tante ? . Pikiranku menjadi tak tentu . “Emang siapa yang sakit mbo’ ?” Tanya ku pada mbo’ nah . “Ya , aden Kevin yang sakit .” jawab mbo’ nah . Apa aku salah dengar ? atau mbo’ nah sedang bercanda sekarang ? Tapi dari raut mukanya yang panik tak mungkin , mbo’ nah becanda . “Kevin ? Sakit apa mbo’ ?” Tanya ku lagi , dengan rasa penasaran sekaligus khawatir . “Aden Kevin di diaknosis terkena Kanker Otak stadium akhir , neng . Dan dokter bilang umurnya sudah tak lama lagi . “ jawab mbo’ nah yang menangis didepanku . Akupun menangis didepan teras rumahnya Kevin . “Ternyata selama ini den’ Kevin menyembunyikan penyakitnya , bahkan tuan dan nyonyapun tak tau tentang penyakitnya deh Kevin , den’ Kevin terlalu pintar untuk menyembunyikan penyakitnya .” ujar mbo’ nah sambil terus menangis . Apa ? jadi selama ini Kevin mengidap penyakit mengerikan itu ? orang tuanya pun tak tau , bahkan aku ? sepintar itukah kamu ? sifat ceria kamu mampu menutupi semuanya . Segera ku berlari tanpa berpamitan dengan mbo’ nah , aku ingin cepat menemui Kevin dirumah sakit , ku hapus air mataku . Kulajukan mobilku lebih cepat dari tadi . Aku tak perduli jika aku harus tabrakan , asalkan aku bisa sampai dirumah sakit dengan cepat .
Sesampainya dirumah sakit , segera aku tanya suster , dimana ruangan Kevin . Setelah ku tau akupun berlari disepanjang korior rumah sakit . Akupun tak sengaja menabrak orang yang berada di sepanjang koridor . Aku tak sanggup berbalik dan meminta maaf . Ku lanjutkan lariku dan akhirnya sampai diruangan Kevin . Mawar 177 . Saat ku buka pintu , kulihat sosok yang kucintai terbaring tak berdaya , dibadannya terpasang alat-alat yang aku tak tau apa itu . Kulihat disamping ranjang ada om dan tante . Tante terus menangis disamping ranjangnya Kevin . Tanpa tau bahwa aku sudah berada disampingnya . “Sayang ….” Hanya itu yang keluar dari mulutku , air mataku terus mengalir . Tante yang menyadari keberadaanku , langsung bangun dan memelukku , tangis kami akhirnya pecah . Bahkan , om tak bisa menahan air matanya , Anggara Baskoro yang selama ini kukenal sebagai orang yang keras , akhirnya menangis , saat melihat anak semata wayangnya terbaring tak berdaya . “Kevin kenapa tante?” tanyaku sambil terus menangis . Tante tak menjawab , tangisnya makin kencang . Om hanya bisa memeluk kami berdua . Segera kuberitahu kedua orang tuaku tentang kondisi Kevin sekarang . Orang tuaku , hanya dapat menitip salam buat om dan tante juga Kevin , karena mereka tidak bisa datang sekarang , mereka pagi-pagi sekali sudah keluar kota .
Malam harinya , aku terus berada disamping Kevin tanpa meninggalkannya sedetikpun , saatku rasakan ada seserang yang memegang bahuku , ku berbalik dan menemukan om tersenyum dan mengangangkat tangannya , kulihat beliau membawa makanan kesukaanku dan Kevin . Ayam goreng . Tanpa kusadari air mataku tiba-tiba jatuh . Kuingat lagi kenanganku berdua dengannya . Dulu kami sangat suka suap-suapan saat makan . Lalu om baskoro memelukku dan berkata bahwa kita semua harus sabar .
Sudah seminggu lebih Kevin dirawat tapi tak kunjung ada kemajuan , semua dokter angkat tangan dalam menanganinya . Malam hari aku terbangun , karena aku merasa ada yang memegang tanganku , kulihat Kevin memanggil namaku . “Bintang … Bintang …” . Aku terbangun , lalu kubangunkan om dan tante yang malam itu ikut menginap dirumah sakit bersamaku . “Sayang , aku disini .” jawabku sambil memegang tangannya . “Ma , apa mama membawa barang itu ?” Tanya Kevin kepada tante Baskoro . “Iya sayang “ jawab tante dengan berlinang air mata . Dokter datang dan memeriksa Kevin , selagi dokter memeriksa Kevin , tante menghampiriku , dan memberikan sebuah kotak berwarna biru langit , warna kesukaanku . Kubuka kotak itu , dan kulihat sebuah kalung berbentuk bintang dan terdapat sebuah lambang ‘B’ . “apa ini tante ?” tanyaku pada tante yang sedari tadi hanya diam memandangku . “itu kalung yang Kevin khusus pesankan untukmu , dia ingin tante memberikan kalung itu padamu , Bintang jaga baik-baik kalung itu yah .” ujar tante sambil memelukku , aku hanya tersenyum . “Mari tante pakaikan . “tawar tante padaku . Kubalikan badanku , agar tante bisa memasangkan kalung itu , saat kalung itu sudah ada dileherku , aku tersenyum . Om yang berada disampingku tiba-tiba berkata “Bintang , kamu sudah kami anggap anak kami sendiri . “ ujar om , tante mengangguk dan tersenyum . “Terima kasih om , tante.” Jawabku , aku rasa baru kali ini aku mengeluarkan suaraku , semenjak Kevin sakit , aku jarang sekali bicara bahkan sama orang tuaku , om dan tante , bahkan sahabat-sahabatku . Dokter dan suster keluar dari kamar Kevin . “Kevin ingin bertemu kalian” ujar dokter dan berjalan meninggalkan kami . Kami masuk ke kamar Kevin , kulihat dia tersenyum melihat kami . “Ma , Pa , Sayang , mendekatlah aku ingin melihat kalian lebih dekat “ ujarnya lemah . Kami mendekat , tak bisa kutahan air mataku , aku menangis lagi . Tangannya menghapus air mataku dan berkata “Sayang , ayolah berhenti menangis , kau tau kan aku tak suka melihatmu menangis ? apa kau mau aku sedih ?” ujarnya lemah lalu tersenyum . Tampan walau dalam keadaan sakit . “Berjanjilah padaku kau tak akan menangis untuk alasan apapun , tapi menangislah jika kau tak tahan lagi dan menangislah untuk orang yang kau sayang” ujarnya lagi . “aku berjanji . sekarang istirahatlah . Kamu butuh istirahat supaya cepat sembuh “ ujarku sambil memegang pipinya . Dingin . “Ma , pa , sayang aku lelah , aku ingin tertidur untuk waktu yang lama . Ma , pa berjanjilah jaga Bintang hatiku ini .” ujar Kevin . “Iya sayang , mama dan papa berjanji” jawan tante . “akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang sekarang” ujar Kevin sambil tersenyum dan menutup matanya dengan perlahan , kulihat senyumnya mengembang . Tanpa kusadari suara pendeteksi jantung disamping ranjang Kevin berbunyi dan terdapat garis lurus . Tak dapat ku tahan tangisku , semua pecah saat ini . Om baskoro berlari mencari dokter . “Kami sudah berusaha semampu kami” ujar dokter , saat suster ingin menutup wajah Kevin , aku berteriak histeris , dan tak mengijinkan suster melakukan itu . Ayah dan bunda datang saat aku kabari keadaan Kevin . Ayahku hanya bisa memelukku . Dan berbisik ditelingaku . “Tabah yah sayang” . Semua tangis pecah pada malam itu .





Label: my novel